Belajar Tentang Sejarah Surabaya

Surabaya merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang mempunyai sejarah cukup panjang. Mulai dari zaman kerajaan hingga merdeka dan menjadi ibukota Jawa Timur. Untuk mengetahui sejarah Surabaya, berikut ini ulasannya.

Sebelum Kedatangan Belanda

Pada zamannya kerajaan majapahit, Surabaya merupakan gerbang dari kerajaan, yakni dari muara Kali Mas. Maka tidak heran jika Surabaya menjadi daerah besar sejak dahulu hingga sekarang.

Pada abad ke-15, Islam mulai masuk dan menyebar di kawasan Surabaya. Sebagai buktinya, Surabaya terdapat Masjid Ampel dimana pembangunannya dilakukan oleh sunan Ampel. Selain itu, sunan Ampel dimakamkan di kota ini. Hal ini membuktikan bahwa Islam di Surabaya tergolong besar dan diterima oleh masyarakat Surabaya.

Pada tahun 1530, Surabaya menjadi daerah kekuasaan Kesultanan Demak. Namun, kekuasaan Kesultanan Demak ini tidak bertahan lama menyusul runtuhnya Demak. Sehingga Surabaya menjadi incaran penaklukan Kesultanan Mataram. Berbagai serangan dilakukan guna menaklukkan Surabaya, seperti penyerangan Panembahan Senopati tahun 1598, penyerangan besar-besaran oleh Panembahan Seda ing Krapyak tahun 1610, penyerangan Sultan Agung tahun 1614 dan yang terakhir yang membuat Surabaya menyerah adalah pemblokiran aliran Sungai Brantas yang dilakukan oleh Sultan Agung. Seperti halnya Kesultanan Demak, setelah jatuh ke tangan kekuasaan Kesultanan Mataram, Surabaya direbut paksa oleh Trunojoyo dari Madura pada tahun 1675. Terakhir, Surabaya jatuh ke tangan VOC pada tahun 1677.

Zaman Hindia-Belanda

cakmaryanto.wordpress.com
cakmaryanto.wordpress.com

Pada era Hindia-Belanda, Surabaya menjadi ibukota Karasidenan Surabaya, yang wilayahnya meliputi, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Jombang. Status Surabaya berubah menjadi kotamadya pada tahun 1905 dan berubah kembali pada tahun 1926, yang diangkat menjadi ibukota Jawa Timur. Sejak perubahan status tersebut, Surabaya menjadi kota modern terbesar kedua setelah Batavia.

Kekuasaan Hindia-Belanda juga akhirnya berakhir akibat serangan yang dilakukan oleh tentara Jepang. Pada tanggal 3 Februari 1942, Jepang menjatuhkan bom ke wilayah Surabaya dan pada bulan Maret 1942, Jepang berhasil merebut Surabaya. Selang beberapa tahun, tepatnya pada tanggal 17 Mei 1944, Surabya menjadi serbuan tentara sekutu,.

Pertempuran Mempertahankan Surabaya

Pasukan Inggris-Hindia kembali berusaha menduduki Surabaya setelah Perang Dunia II usai, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 1945. 6000 pasukan Inggris-India yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby mendarat di Surabaya. Tujuan pasukan ini adalah untuk melucuti tentara Jepang, tentara dan milisi Indonesia. Mereka juga mendapatkan tugas untuk mengurus bekas tawanan perang dan memulangkan tentara Jepang.

Karena negara Jepang sudah kalah dalam Perang Dunia II, tentara Jepang yang ada di Surabaya pun menyerah tanpa syarat. Namun, milisi Indonesia menolak perintah tersebut. Sehingga, pada tanggal 26 Oktober 1945, Gubernur Jawa Timur, Bapak Suryo membuat kesepakatan dengan Brigjen Mallaby. Isi dari kesepakatan tersebut adalah pasukan Indonesia dan milisi tidak harus menyerahkan senjatanya. Namun, kesepakatan ini diterima secara berbeda oleh markas tentara Inggris di Jakarta yang dipimpin Letnan Jenderal Sir Philip Christison.

Pada tanggal 27 Oktober 1945, pesawat Dakota AU Inggris dari Jakarta menyebarkan selebaran di wilayah Surabaya. Selebaran tersebut berisi tentang permintaan agar tentara dan milisi Indonesia menyerahkan seluruh senjata yang dimikinya. Hal ini membuat marah para tentara dan milisi Indonesia karena mereka menganggap Brigjen Mallaby tidak mematuhi perjanjian yang sudah disepakati.

Akhirnya, tentara dan milisi Indonesia menyerang pasukan Inggris di Surabaya pada tanggal 28 Oktober 1945. Untuk menghindari kekalahan, Brigjen Mallaby meminta kepada Presiden Soekarno dan panglima pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk mengusahakan perjanjian perdamaian.

Permintaan Brigjen Mallaby disambut baik oleh Presiden Soekarno. Kemudian pada tanggal 29 Oktober 1945, Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta, Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap, dan Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk melakukan perundingan. Perundingan tersebut menghasilkan sebuah perjanjian yang isinya dihentikan segala bentuk tembak-menembak dan tentara Inggris akan ditarik mundur secepatnya. Isi perjanjian tersebut kemudian diumumkan oleh Brigjen Mallaby ke setiap pos tentara Surabaya untuk mengabarkan tentang perjanjian tersebut.

Saat mendekati jembatan merah, Brigjen Mallaby dikepung oleh milisi Indonesia. Karena tentara Inggris beranggapan komandannya akan diserang, tentara Inggris menembakkan tembakan ke atas untuk memberikan peringatan. Para milisi juga mengira menyerangnya. Seorang perwira dari pasukan Inggris juga melemparkan granat ke arah milisi Indonesia. Namun, granat tersebut jatuh tepat di bawah mobil Brigjen Mallaby. Granat tersebut meledak dan Brigjen Mallaby pun tewas.

Tentara Inggris di Surabaya mengabarkan bahwa Brigjen Mallaby tewas ditembak oleh milisi Indonesia ke markas besar tentara Inggris yang di Jakarta. Mendengar kabar buruk tersebut, Letjen Sir Philip Christison marah besar dan mengerahkan 24000 tentara tambahan di Surabaya.

Pada tanggal 9 November 1945, Inggris memberikan ultimatum ke tentara dan milisi Indonesia untuk menyerahkan senjatanya ke tentara Inggris, namun ultimatum tersebut tidak dindahkan. Karena ultimatum tersebut tidak dindahkan, tentara inggris menyerang milisi Indonesi secara membabibuta pada tanggal 10 November 1945. Terjadilah pertempuran hingga 10 hari. Banyak korban yang berguguran antara kedua belah pihak. Namun, pihak Indonesia yang paling banyak. Pertempuran yang berlangsung pada tanggal 10 Nopember 1945 tersebut hingga sekarang dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *